Kamis, 26 Januari 2012

MASALAH YANG SERING DI ALAMI SISWA





Dalam proses pendidikan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi siswa, mulai dari faktor pribadi, social, belajar dan karir dalam artikel saya kali ini saya membahas beberapa faktor tersebut dan masalah yang paling sering di alami siswa pada umumnya berdasarkan survey yang telah saya lakukan beberapa minggu lalu.

A.    PRIBADI
Faktor pribadi merupakan faktor internal, yang di maksudkan disini adalah hal – hal yang disebapkan atau yang dapat mempengaruhi pribadi siswa itu sendiri, dan di sini ada tiga masalah pribadi yang banyak terdapat pada siswa khususnya kelas X SMA:

1.      Punya keinginan (cita-cita) yang kurang sesuai dengan kemampuan.
Kebanyakan siswa memang mempunyai cita-cita atau keinginan yang tinggi, hal ini disebapkan mungkin karena mereka masih dalam masa transisi, daya khayal dari masa anak-anak masi sering terbawa sehingga siswa sering menginginkan sesuatu secara berlebihan, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa terkadang apa yang mereka inginkan tidak semuanya bisa di penuhi, untuk hal ini kita bisa mengenal yang namanya idealis.
 Apakah yang dimaksud dengan idealis? Idealis artinya orang yang bercita cita tinggi. Anak anak muda penuh idealis artinya cita citanya itu sesuai dengan jalan hidupnya yang pada akhirnya menjadi sempurna, pada umumya kaum muda mempunyai sifat idealis yang tinggi, artinya selalu mencari sesuatu yang ideal sesuai dengan cita citanya. Mereka memeiliki banyak gagasan yang bagus untuk diwujudkan.



2.      Mesara rendah diri dengan wajah yang kurang cantik/cakap.
Rasa rendah diri adalah sebuah kondisi psychologis yang berasal dari pengalaman masa kecil dan diwujudkan dalam kehidupan dewasa jika kondisi ini tidak cepat diatasi sejak awal mereka yang menderita rasa rendah diri secara terus menerus merendah diri sendiri, dan sangat sensitive, perasaan ini bisa di alami semua orang namun  ada beberapa orang yang bisa menanggapinya tapi ada juga yang terpuruk dalam perasaan rendah diri ini.
Pengertian rendah diri adalah perasaan menganggap terlallu rendah pada diri sendiri. Orang yang menganggap diri sendiri terlalu rendah dikatakan rendah diri. Orang yang rendah diri berarti menganggap diri sendiri tidak mempunyai kemampuan yang berarti. Seperti dikatakan oleh Alder bahwa rasa rendah diri berarti perasaan kuarng berharga yang timbul karena ketidakmampuan psikologis atau social maupun karena keadaa jasmani yang kurang sempurna ( Sumadi Suryabrata, 1984: 220 ).

3.      Merasa malas Untuk beribadah
Sebuah cara yang dapat dilakukan seorang manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT salah satunya dengan menjalankan ibadah shalat fardhu. Untuk itu, perlu adanya pembiasaan dini kepada anak agar menjalankan ibadah shalat fardhu dengan tertib dari kesadaran mereka sendiri bukan dari perintah orang lain. Dengan adanya kegiatan shalat dhuhur berjama’ah yang ada di madrasah, mempunyai manfaat sebagai upaya untuk membiasakan siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu. Hal di atas sangatlah penting mengingat pembiasaan itu sebaiknya diberikan kepada anak sejak kecil karena pada saat itu mereka mempunyai ingatan yang sangat kuat.
Untuk memaparkan manfaat pembiasaan kegiatan shalat dhuhur berjamaÂ’ah sebagai upaya madrasah untuk membiasakan siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana kebiasaan siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu? (2) Apa faktor pendorong dan penghambat siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu? (3) Apa manfaat pembiasaan kegiatan shalat dhuhur berjamaÂ’ah siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul?
Untuk menjawab rumusan masalah di atas, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan subyek kepala sekolah, siswa, guru serta pihak yang terkait dalam penelitian di MI MaÂ’arif Patihan Kidul Siman Ponorogo. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview atau wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisa data yang digunakan adalah reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing).
Dari penelitian ini ditemukan bahwa (1) kebiasaan siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu adalah sudah baik dan tertib, (2) Faktor pendorong siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu adalah: lingkungan keluarga, lingkungan madrasah, lingkungan masyarakat, dan tempat ibadah seperti masjid dan musholla, faktor penghambat siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu adalah: anak merasa belum dewasa, lupa dan malas dan teman sepermainan (3) Manfaat pembiasaan kegiatan shalat dhuhur berjamaÂ’ah di madrasah adalah untuk meningkatkan kebiasaan dan kedisiplinan siswa dalam menjalankan ibadah shalat fardhu, mendekatkan diri pada Allah SWT, menenangkan dan menentramkan jiwa.
Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan kebiasaan siswa MI MaÂ’arif Patihan Kidul dalam menjalankan ibadah shalat fardhu adalah (1) Hendaknya semua guru terus memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih aktif dalam menjalankan ibadah shalat fardhu, (2) Hendaknya pelaksanaan kegiatan shalat dhuhur berjama'ah lebih ditingkatkan agar berjalan dengan tertib dan lancar, (3) Hendaknya orang tua menanamkan kebiasaan menjalankan ibadah shalat fardhu dengan cara berjama'ah di rumah. 







B.     SOSIAL

Ketergantungan manusia dengan orang lain sudah terlihat sejak dalam kandungan. Sejalan dengan perkembangannya, seorang anak membutuhkan orang lain tidak saja untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, namun juga untuk mengembangkan diri dan kepribadiannya, bahkan mungkin intelektualnya.
Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial dan mampu untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Berikut ini ada beberapa masalah social siswa


1.      Punya kawan yang perilakunya kurang baik. (berkelakuan buruk)


TERKADANG anak berlaku buruk bukan karena kemauan mereka, tetapi mereka tidak tahu dampaknya kepada dirinya dan orang lain. Oleh karena itu mereka harus dibuat untuk mengintropeksi dirinya, dengan melihat keadaan mereka pada saat berperilaku buruk, dengan melihat keadaan dirinya dan mendapat pelatihan dari orangtuanya.

Dengan cara seperti itu anak akan mudah berubah dengan sangat cepat, tanpa harus diperintah atau dibentak. Anda akan menjadi orang tua yang bebas dari stress. Dan anda mengubahnya tanpa harus melakukan upaya yang begitu besar, karena mereka akan menghipnotis dirinya sendiri.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk cara ini. Salah satunya dengan memberikan pemahaman jika berlaku buruk bukan saja akan merugikan orang lain tapi juga dirinya sendiri. Berikan pemahaman jika berbuat tidak baik maka justru akan merugikan dirinya sendiri karena akan dijauhi oleh teman-temannya.

Lantas bagaimana jika anak tetap enggak mau nurut dan tetap saja berlaku buruk? Sebagai orangtua Anda yang harus pegang kendali. Bila anak masih tetap tidak mau berubah dan malah mengamuk jangan sampai ngalah, apalagi si anak mengatakan memilih untuk bersikeras dengan kebiasaannya. Kalau sekali saja anak diberi keleluasaan, ia akan menggunakan cara yang sama berulang kali. Ada baiknya juga tetapkan hukuman jika si anak tetap membandel seperti misalnya jika ia tetap berlaku buruk maka hukumannya adalah potong uang jajan selama seminggu, dan sebagainya. Jangan pernah mengalah atau kasihan jika itu memang untuk mendidik si anak hanya karena si anak merengek atau mengamuk. Dengan sikap keras yang kita miliki, si anak pun akan memperhatikan apakah dengan cara seperti itu akan mendapat yang diinginkannya. Nantinya si anak akan sadar dengan menggunakan cara seperti itu, dirinya tidak akan mendapatkan apapun.



2.      Merasa malu berbicara didepan orang banyak.

Berdasarkan pengalaman empris di lapangan diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Hal ini diketahui pada saat siswa menyampaikan pesan/informasi yang bersumber dari media dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar. Isi pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut kurang jelas. Siswa berbicara tersendat-sendat sehingga isi pembicaraan menjadi tidak jelas. Ada pula di antara siswa yang tidak mau berbicara di depan kelas. Selain itu, pada saat guru bertanya kepada seluruh siswa, umumnya siswa lama sekali untuk menjawab pertanyaan guru. Beberapa orang siswa ada yang  tidak mau menjawab pertanyaan guru karena takut jawabannya itu salah. Apalagi untuk berbicara di depan kelas, para siswa belum menunjukkan keberanian.

Dari latar belakang di atas perlu dicari alternatif lain sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hal ini mengingat pentingnya pengajaran berbicara sebagai salah satu usaha meningkatkan kemampuan berbahasa lisan di tingkat sekolah menengah pertama, penulis menggunakan teknik pengajaran berbicara yaitu teknik cerita berantai. Dipilihnya teknik cerita berantai ini karena mampu mengajak siswa untuk berbicara. Dengan teknik ini, siswa termotivasi untuk berbicara di depan kelas. Siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Di samping itu, diharapkan pula agar siswa mempunyai keberanian dalam berkomunikasi.

Menurut Tarigan (1990), “Penerapan teknik cerita berantai ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian siswa dalam berbicara. Jika siswa telah menunjukkan keberanian, diharapkan kemampuan berbicaranya menjadi meningkat.”

Teknik cerita berantai bisa dimulai dari seorang siswa yang menerima informasi dari guru, kemudian siswa tadi membisikkan informasi itu kepada teman lain, dan teman yang telah menerima bisikan meneruskannya kepada teman yang lain lagi. Begitulah seterusnya. Pada akhir kegiatan akan dievaluasi, yaitu: siswa yang mana yang menerima informasi yang benar atau salah. Siswa yang salah menerima informasi tentu akan salah pula menyampaikan informasi kepada orang lain. Sebaliknya, bisa saja terjadi informasi yang diterima oleh siswa itu benar tetapi mereka keliru menyampaikannya kepada teman yang lain. Untuk itu, diperlukan pertimbangan yang cukup bijak dari guru untuk menilai keberhasilan teknik cerita berantai ini.



3.      Merasa lebih senang menyendiri.


Menyendiri adalah gambaran dari kekurang mampuan seorang anak dalam pergaulannya dengan teman sebaya. Anak-anak ini memisahkan diri dari lingkungannya dan mempergunakan sebagian besar waktunya untuk diri sendiri. Pada umumnya anak yang sukar bergaul memiliki kendala yang erat kaitannya dengan masalah lain, misalnya masalah kesulitan dalam menyesuaikan diri di sekolah yang pada umumnya anak biasanya kurang mampu untuk bisa diajak bekerjasama dengan orang lain, kurang mampu tenggang rasa bila bermain serta bisa juga terjadi pada anak-anak yang memiliki perilaku agresif. Dan, apabila masalah ini tidak segera diatasi maka dapat mengembang menjadi perilaku yang menyimpang.

C.     BELAJAR

Pada umumnya siswa sering mengalami susah belajar, dan berikut ada beberapa hal yang menybapkan siswa itu sulit untuk belajar



1.      Merasa kurang senang terhadap cara guru mengajar.

Beberapa faktor berikut bisa menjadi alasan siswa tidak suka kepada guru. kalau ada murid yang tidak suka pada kita sebagai guru. Jangan marah, apalagi memberi nilai di bawah rata-rata. Segeralah intropeksi diri.

Ø  Penampilan yang kurang menarik. Menjadi seorang guru akan lebih banyak berada di muka kelas. Kalau penampilan guru tersebut tidak menarik, lamabat laun akan memacu kebosanan. Akibatnya siswa menolak untuk menerima kehadiran guru yang mereka anggap monoton tersebut.

Ø  Cara mengajar yang kurang pas. Kelas terdiri dari beragam siswa. Guru yang menerangkan pelajaran dengan lamban akan disenangi oleh murid yang memang kemampuannya terbatas. Namun, akan menjadi musuh bagi mereka yang bisa diajak belajar cepat. Begitu sebaliknya.

Ø  Memberikan tugas yang tidak wajar, tidak masuk akal, dan menyusahkan siswa.

Ø  Marah karena hal sepele.

Ø  Mempermalukan siswa di depan siswa lainnya.

Ø  Subjektif dalam memberikan nilai.


2.      Merasa kurang senang terhadap mata pelajaran tertentu.
seorang guru yang baik adalah yang bisa mendesain materi pelajaran mudah dicerna dan dipahami siswa. Pembelajaran yang baik adalah yang bisa masuk ke otak kanan. Materi pelajaran yang masuk ke memori otak kanan akan tersimpan lama dan tidak mudah hilang. Sebaliknya, materi pelajaran yang masuk ke memori otak kiri akan sulit dicerna dan dipahami siswa. Lebih dari itu, materi pelajaran yang masuk ke otak kiri akan mudah hilang atau lupa. Dalam kegiatan pembelajaran siswa tidak hanya dituntut keaktifannya saja tapi juga kekreativitasannya, karena kreativitas dalam pembelajaran dapat menciptakan situasi yang baru, tidak monoton dan menarik sehingga siswa akan lebih terlibat dalam kegiatan pembelajaran.





Dalam pembelajaran matematika seringkali siswa merasa kesulitan dalam belajar, selain itu belajar siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep salah. Akibatnya prestasi siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Rendahnya prestasi disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensip atau secara parsial. Sedangkan guru yang bertugas sebagai pengelola pembelajaran  seringkali belum mampu menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara bermakna, serta penyampaiannya juga terkesan  monoton tanpa memperhatikan potensi dan kreativitas siswa sehingga siswa merasa bosan karena siswa hanya dianggap sebagai botol kosong yang siap diisi dengan materi pelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika guru harus menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan disesuaikan dengan kondisi siswa sehingga siswa lebih memahami materi yang disampaikan dan siswa lebih berkesan dengan pembelajaran yang telah disampaikan serta siswa akan lebih mengingat dan tidak mudah melupakan hal- hal yang dipelajarinya.


3.      Merasa kurang betah belajar, karena siakap para guru mengajar.
Hal ini kurang llebih hampir sama denga penjelasan Merasa kurang senang terhadap cara guru mengajar, Penampilan yang kurang menarik, Cara mengajar yang kurang pas. Memberikan tugas yang tidak wajar, tidak masuk akal, dan menyusahkan siswa. Adalah faktor yang menjadi penyebap siswa merasa kurang betah belajar, karena siakap para guru mengajar





D.    KARIR

Berikut ada beberapa masalah mengenai karir dari siswa

1.      Masih kurang memahami keterampilan apa yang harus siswa kuasai untuk perjaan yang siswa akan masuki.

2.      Masih belum memiliki pilihan yang pasti tentang pekerjaan yang akan siswa masuki.

3.      Belum memilki wawasan tentang prospek lapangan kerja di masa depan.


Pada sub tahap eksplorasi umumnya remaja mulai menerapkan pilihan-pilihan yang dipikirkan pada tahap tentatif akhir. Mereka menimbang-nimbang beberapa kemungkinan pekerjaan yang mereka anggap sesuai dengan bakat, minat, serta nilai-nilai mereka, namun mereka belum berani mengambil keputusan tentang pekerjaan mana yang paling tepat. Dalam hal ini termasuk di dalamnya masalah memilih sekolah lanjutan yang sekiranya sejalan dengan karier yang akan mereka tekuni. Pada sub tahap berikutnya, yakni tahap kristalisasi, remaja mulai merasa mantap dengan pekerjaan/karier tertentu. Berkat pergaulan yang lebih luas dan kesadaran diri yang lebih mendalam, serta pengetahuan akan dunia kerja yang lebih luas, maka remaja makin terarah pada karier tertentu meskipun belum mengambil keputusan final. Akhirnya, pada sub tahap spesifikasi remaja sudah mampu mengambil keputusan yang jelas tentang karier yang akan dipilihnya. 

Dalam buku edisi revisinya Ginzberg dkk (1972) menegaskan bahwa proses pilihan karier itu terjadi sepanjang hidup manusia, artinya bahwa suatu ketika dimungkinkan orang berubah pikiran. Hal ini berarti bahwa pilihan karier tidaklah terjadi sekali saja dalam hidup manusia. Di samping itu Ginzberg juga menyadari bahwa faktor peluang/kesempatan memegang peranan yang amat penting. Meskipun seorang remaja sudah menentukan pilihan kariernya berdasar minat, bakat, dan nilai yang ia yakini, tetapi kalau peluang/kesempatan untuk bekerja pada bidang itu tertutup karena "tidak ada lowongan", maka karier yang dicita-citakan akhirnya tidak bisa terwujud.











0 komentar:

Poskan Komentar